Rasulullah Mengajarkan Manajemen Ramadhan pada Umatnya

RAMADHAN - Bagaimana Rasulullah Mengajarkan Manajemen Ramadhan pada Umatnya?. Di Indonesia, lebih seru lagi. Ribuan sepanduk menyambut Ramadhanpun tersebar di mana-mana.

Rasulullah Mengajarkan Manajemen Ramadhan pada Umatnya

Bahkan yang amat mencolok ialah tokoh, politisi, seniman, musisi, media dan partai-partai politik yang tidak care dengan Islampun, dan bahkan memusuhi prinsip-prinsip dan ajaran Islam tak mau ketinggalan menyambut kedatangan bulan yang penuh berkah ini melalu berbagai acara, program, spanduk, iklan dan pamphlet, jadwal imsakiyah Ramadhan, media cetak maupun elektronik. Hal tersebut mereka lakukan dengan harapan memperoleh berkah (materi dan ketenaran) di Bulan Ramadhan. 

Bagi para politisi dan partai politik, tentu dengan harapan memperoleh berkah (dukungan kaum Muslimin), khususnya pada Waktu Pemilu.

Bagi para politis Islam dan partai-partai yang selama ini menyuarakan Islam atau atas nama Islam, mereka merasa panen keberkahan di bulan Ramadhan. Berbagai ungkapan dan istilah dikeluarkan melalui spanduk, iklan, pamflet dan bahkan jadwal imsakiyah Ramadhan. Semua itu tak terlepas dari ajang kampanye dan promosi dengan menempelkan di atasnya foto-foto diri mereka yang menggelikan sambil menyebut Caleg DPR RI/DPRD dari daerah pilihan (Dapil) ini dan itu. Seorang teman melihat kenyataan ini berkata : Beginikah Rasulullah mengajarkan manajemen Ramadhan pada umatnya?

Ahlan wa sahlan yaa Ramadhan adalah sebuah ungkapan yang sangat dalam maknanya. Ungkapan yang mencerminkan penghormatan luar biasa bagaikan menyambut kedatangan tamu yang amat sangat mulia. Memang demikianlah halnya. Ramadhan dengan segala aktivitasnya adalah momentum terbaik mengikuti Training Manajemen Syahwat bagi orang-orang beriman.

Ramadhan adalah bulan kemenangan hamba mukmin jika dia berhasil memperoleh kasih sayang, ampunan dan jaminan keselamatan dari neraka dari Allah Rabbul Alamin.

Ramadhan bukan bulan promosi dari, partai, kelompok dan momentum berlomba-lomba meraih kekuasaan dan kepentingan dunia lainnya? Melainkan bulan limpahan rahmah (kasih sayang), maghfirah, dan itqun minannar (terlepas dari api neraka) di akhirat kelak. Itulah yang dirasakan Salafushshalih generasi pertama umat Islam. Mereka merasakan efektifitas amaliyah Ramadhan sepanjang tahun. Setelah enam bulan melewati Ramadhan ,mereka meminta dan berdoa kepada Allah agar dipertemukan dengan Ramadhan berikutnya.

Semua yang dilansir di atas adalah cerminan salah kaprah dalam menyambut dan menjalankan amaliah (aktivitas) Ramadhan. Agar kita terhindar dari salah kaprah tersebut, perlu kita renungkan dan camkan beberapa keistimewaan Ramadhan seperti yang dijelaskan Allah dan Rasul Muhammad Saw berikut :

Ramadhan adalah waktu termahal dalam hidup kita yang datang setiap tahun tanpa diundang. Di dalamnya terdapat satu malam lebih baik dari 1.000 bulan. Malam itu dinamakan Allah dengan Lailatul Qadr (Q.S.Al-Qadr : 1- 5). Waktunya adalah pada 10 hari terakhir Ramadhan, seperti yang diisyaratkan Rasul Saw dalam beberpa haditsnya.

Ramadhan dengan segala aktivitasnya, khususnya shaum (puasa) adalah kesempatan emas untuk mengikuti Training Manajemen Syahwat dan disiplin tinggi dalam hidup melalui berbagai ibadah yang kita lakukan baik di siang hari maupun di malamnya. Dalam hadits riwayat imam Bukhari dijelaskan, Rasulullah bersabada : Shaum adalah perisai. Jika salah seorang di antara kamu sedang shaum, maka janganlah berkata kotor dan berprilaku buruk. Jika ada orang yang memancingmu untu keributan atau mencacimu maka katakanlah : Saya ini sedang puasa, dua kali. Demi Dzat yang diri Muhammad ada di tangan-Nya, bahwa bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah dari wangi kasturi. Dia telah meninggalkan makan, minum dan syahwatnya demi Aku (Allah). Shaum itu untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya, dan satu kebaikan akan dibalas menjadi sepuluh kali lipat. (H.R. Imam Bukhari)

Ramadhan adalah bulan bertabur rahmah dan berkah. Ramadhan momentum terbaik untuk taqarrub ilallah (mendekatkan diri pada Allah), kembali ke jalan Allah dan bertaubat atas segala dosa, kesalahan dan kelemahan. Karena di bulan ini pintu syurga Allah buka selebar-lebarnya, pintu neraka Dia tutup serapat-rapatnya dan setansetan dibelenggu-Nya. (H.R Imam Baihaqi, Ahmad dan Nasa‟i). Oleh sebab itu, berbuat kebaikan dan ketaatan di bulan Ramadhan terasa lebih mudah dibanding dengan bulan-bulan lain.

Ramadhan dengan segala aktivitasnya adalah momentum termahal untuk meraih kesehatan ruhiyyah (spiritual), sulukiyah (prilaku) dan juga kesehatan jasadiyah (fisik). Telah banyak dilakukan penelitian oleh para pakar tentang pengaruh shaum terhadap kesehatan bagi yang melakukannya. Di antaranya seperti yang dikatakan oleh Dr Abdul Jawad As-Shawi, pakar ilmu kesehatan pada Lembaga Pengkajian Scientific dalam Al-Qur‟an dan Assunnah yang berkantor pusat di Makkah, bahwa manfaat shaum di bulan Ramadhan bukan hanya bagi yang melakukannya saat berada di negerinya (muqim), tapi juga termasuk yang musafir, orang tua yang berat baginya berpuasa. Inilah rahasia mukjizat Al-Qur‟an yang tercantum dalam surat Al-Baqoroh ayat 184 di mana Allah mencantumkan “ Dan jika kamu shaum adalah khair (lebih baik) bagimu. Kata Khair dalam bahasa Arab adalah superlative degree (isim tafdhil) mencakup kebaikan kesehatan jiwa dan kebahagian di dunia dan akhirat. Sebab itu, Allah tutup ayat tersebut dengan “ Jika kamu mengetahuinya”.

Orang-orang yang shaum akan memperoleh dua kegembiraan. Pertama, di dunia yakni saat berbuka dan kedua di akhirat, yakni saat ia bertemu Allah di syurga. (HR. Muslim)

Shaum itu akan memberi syafaat (rekomendasi kuat) di akhirat bagi yang melakukannya. Dari Abdullah Bin Umar radhiyallahu „anhu bahwa Nabi Saw berkata : Shaum dan Al-Qur‟an member syafa'at bagi hamba (yang melakukan dan membacanya) pada hari kiamat nanti. Shum berkata : Ya Robbb… Saya larang dia dari makanan dan syahwat di siang hari, maka berilah dia syafa‟at. Lalu Al Qur'an berkata : Saya larang dia tidur di malam hari, maka berilah dia. Maka keduanya (Shaum dan Al-Qur'an) diizinkan Allah menjadi syafaat baginya. (HR. Ahmad)